Kata Ketua
59 Pembaca

Archaeology for the Future

Berthold DH Sinaulan
Jabodetabek
03 March 2026

Setiap mendengar kata Tahun Baru, selalu saja banyak orang langsung menatapnya dengan penuh harapan. Tahun Baru menyiratkan impian, harapan, dan doa untuk masa depan yang lebih baik. 

Lho, kenapa membahas mengenai Tahun Baru padahal sekarang sudah bukan bulan Januari? Sekarang sudah bulan Maret. Benar. Namun, Tahun Baru pernah dirayakan pada bulan Maret, tepatnya tanggal 1 Maret. Di masa Romawi kuno pada ribuan tahun silam, ketika Romulus berkuasa sebagai Kaisar Roma antara kurun 735 sampai 715 Sebelum Masehi, sistem penanggalan kalender hanya terdiri dari 304 hari dalam 10 bulan. Bulan pertama adalah Martius (Maret).

Perubahan baru terjadi sekian masa kemudian, ketika Romawi berada di bawah kekuasaan Numa Pompilius. Dia menambahkan dua bulan, yaitu Ianuarius (Januari) dan Februarius (Februari). Maka, bulan pertama menjadi Januari, menggantikan Maret. Tahun Baru pun dirayakan pada 1 Januari.

Maka, ketika saat ini kita memasuki awal Maret, bukan lagi Tahun Baru. Namun, sudah masuk ke dalam bulan ketiga pada 2026. Lalu, apakah yang telah dilaksanakan IAAI Komda Jabodetabek pada kuartal pertama tahun ini?

Harus diakui belum banyak. Kita baru mengadakan syukuran sederhana menyambut 50 Tahun IAAI bertepatan dengan tanggal ulang tahunnya pada 4 Februari 2026. Acara tersebut diadakan di Gedung E Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta. Pada tanggal itu juga diluncurkan secara resmi situs web IAAI Komda Jabodetabek. Masih di tanggal yang sama, diluncurkan pula Sampul Peringatan (SP) 50 Tahun IAAI, yang diterbitkan oleh IAAI Komda Jabodetabek dengan dukungan PT Pos Indonesia, dalam jumlah yang sangat terbatas, hanya 100 eksemplar.

Selanjutnya, telah digelar pula acara Bincang-bincang Kesehatan mengenai penyakit jantung di Gedung BRIN Pejaten pada Sabtu, 7 Februari 2026. Bertindak sebagai narasumber adalah Dr. Marulam Panggabean SpPD, KKV, SpJP, seorang Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah yang berpraktik di beberapa rumah sakit besar di Jakarta.

Kemudian apa lagi? Rencananya, IAAI Komda Jabodetabek juga akan menyelenggarakan seminar ilmiah – mungkin dalam bentuk Diskusi Ilmiah Arkeologi (DIA) – terkait studi arkeologi dan perkembangannya. Direncanakan pula akan diterbitkan buku khusus menyambut 50 Tahun IAAI. Selain berisikan sejarah IAAI, dibahas pula kemungkinan ada sejumlah artikel ilmiah populer, yang sedikitnya membahas mengenai studi prasejarah, pengaruh Hindu-Buddha, pengaruh Islam, dan studi arkeologi kolonial di Indonesia.

Masih ada lagi sejumlah kegiatan yang direncanakan. Mulai dari sosialisasi arkeologi dan cagar budaya untuk para pelajar, bimbingan teknis terkait dengan uji kompetensi yang diakui melalui sertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), pelatihan paralegal cagar budaya, dan beberapa lainnya seperti upaya mendokumentasikan kembali Candi Borobudur dalam bentuk foto dan ilustrasi grafis, yang sudah pernah didokumentasikan oleh NJ Krom dalam tiga buku monografinya yang legendaris pada 1927. Untuk hal ini, rencananya berkolaborasi dengan Pengurus Pusat IAAI, karena akan melibatkan pula Komda lainnya di luar Jabodetabek.

Di luar itu semua, dalam merayakan 50 tahun IAAI selama setahun penuh pada 2026 ini, Pengurus Pusat IAAI telah menetapkan tema peringatannya. Tema tersebut adalah Menguak Jejak, Membingkai Nilai, Menguatkan Masa Depan.  Tema tersebut dipilih untuk memberi penanda bahwa IAAI siap merefleksikan peran penting arkeologi dalam menggali sejarah masa lalu (menguak jejak), memberikan pemaknaan terhadap warisan budaya (membingkai nilai), serta berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa yang berkelanjutan (menguatkan masa depan). 

Lalu, bagaimanakah dengan kita para anggota IAAI Komda Jabodetabek? Siap jugakah kita untuk melakukan aktivitas sejalan dengan tema tersebut? Bila membahas tentang menggali sejarah masa lalu (menguak jejak) dan memberikan pemaknaan terhadap warisan budaya (membingkai nilai), mungkin sudah sering dilakukan. Namun, bagaimana dengan upaya berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa yang berkelanjutan (menguatkan masa depan)?

Sejak awal abad ke-21, kita telah semakin mengenal istilah arkeologi untuk masa depan (archaeology for the future). Pada awal tahun 2000-an, sejumlah ilmuwan telah menggunakan istilah itu. UNESCO, badan PBB untuk ilmu dan kebudayaan pada 2017 juga telah menjadikan salah satu tema dan pokok bahasannya, Heritage Futures.

Secara umum, arkeologi untuk masa depan adalah konsep multifaset (banyak segi, aspek, ciri, dan dimensi) yang menggeser fokus disiplin ilmu ini dari sekadar meneliti masa lalu menjadi secara aktif membentuk masa depan yang berkelanjutan dan memahami dampak kita saat ini. Konsep ini melibatkan penggunaan ketahanan manusia di masa lampau untuk mengatasi krisis modern seperti perubahan iklim, memanfaatkan teknologi canggih seperti artificial intelligent dan penginderaan jarak jauh untuk pelestarian, serta secara kritis meneliti apa yang akan dikomunikasikan oleh teknofosil kontemporer kita kepada peradaban masa depan. Topik ini menarik untuk dibahas dan dikaji lebih lanjut. Ada yang berminat mendalaminya? 

Menutup Kata Ketua edisi Maret 2026, izinkan saya atas nama seluruh pengurus IAAI Komda Jabodetabek mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan 1447 Hijriah. Semoga ibadah berjalan lancar sampai ke hari kemenangan di Hari Raya Idul Fitri mendatang.


Berthold DH Sinaulan

Ketua IAAI Komda Jabodetabek

TAGS: #arkeologi #iaai #jabodetabek #50tahun #kataketua