Sebulan lalu, dalam rubrik yang sama kami
menuliskan tentang rencana peringatan Hari Purbakala ke-113. Meskipun dalam
situasi dan kondisi terbatas, kami merasa bersyukur dapat menyelenggarakan
peringatan itu. Didukung oleh Direktorat Warisan Budaya, Direktorat Jenderal
Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI, IAAI
Komda Jabodetabek berhasil menyelenggarakan acara seminar “Menilik Tarumanagara”.
Acara yang diadakan di Gedung Kementerian
Kebudayaan RI pada Rabu, 17 Juni 2026 itu, menampilkan dua narasumber.
Masing-masing adalah Chaidir Ashari, seorang arkeolog dan akademisi dari
Universitas Indonesia, serta Retno Raswaty, Kepala Badan Pelestarian Kebudayaan
Provinsi Jawa Barat. Bertindak sebagai moderator adalah Desse Yussubrasta,
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Ketiganya adalah
anggota IAAI Komda Jabodetabek. Sebelum seminar dimulai, Ketua Umum IAAI,
Marsis Sutopo, ikut pula memberikan sambutan.
Seminar tersebut dihadiri juga oleh sejumlah
tokoh arkeologi, termasuk empat mantan Ketua IAAI Komda Jabodetabek, Nies
Anggraeni, Titi Surti Nastiti, Dedah Rufaedah, dan Chitraria LKNP. Sementara
tokoh-tokoh arkeologi yang hadir termasuk Prof. Dr. Noerhadi Magetsari, dan
lain-lain.
Acara itu berlangsung dengan baik. Di akhir
acara, dikemukakan pula rencana untuk mengadakan kunjungan situs ke lokasi
sejumlah prasasti dari Kerajaan Tarumanagara tersebut yang terletak di
Kabupaten Bogor. Rencana kunjungan itu sampai saat ini masih dalam persiapan.
Masih di bulan Juni kemarin, kami mengikuti pula
rapat antara Pengurus Pusat IAAI yang dipimpin langsung ketuanya, Marsis
Sutopo, dan sekretaris jenderal, Sektiadi, dengan Komisariat Daerah (Komda)
IAAI. Kali ini, rapat tersebut berlangsung antara Pengurus Pusat IAAI dengan
IAAI Komda Sumut-Aceh, Komda Jabodetabek, dan Komda DIY-Jateng. Hanya tiga
Komda yang hadir, karena hanya tiga Komda itulah yang mengajukan usulan untuk
anggota baru.
Sejak beberapa tahun lalu, IAAI memang mulai
berbenah diri. Pencalonan anggota baru, tidak sekadar dengan menerima formulir
dan mengesahkannya. Namun, juga melalui mekanisme pembahasan secara terbuka.
Kali ini. Komda Sumut-Aceh mengusulkan satu calon anggota baru, Jabodetabek
mengusulkan 6 calon anggota baru, dan DIY-Jateng mengusulkan 11 calon anggota
baru. Setelah melalui pembahasan rapat, keseluruhan calon anggota itu diterima
dan akan dibuatkan Surat Keputusan serta pemberian nomor anggota.
Terkait dengan anggota IAAI, dalam rapat itu
terungkap pula bahwa sampai tahun ini yang telah melunasi iuran baru sekitar
400 orang dari sekitar 1.000 lebih anggota IAAI yang terdaftar. Tampaknya kita
perlu diingatkan kembali bahwa iuran adalah salah satu kewajiban anggota suatu
organisasi. Pelaksanaan acara-acara IAAI, seperti peringatan Hari Purbakala
ke-113 yang lalu, tentu memerlukan biaya. Selain dukungan dari pihak
Pemerintah, IAAI sudah sepatutnya berusaha pula memenuhi kebutuhannya sendiri.
Salah satunya dari iuran para anggota.
Iuran tersebut juga digunakan untuk biaya
pengelolaan situs web IAAI Komda Jabodetabek yang beralamat di https://iaaijabodetabek.org/home/.
Situs web tersebut merupakan bagian dari upaya semakin mempublikasikan
aktivitas arkeologi agar lebih dikenal luas. Kami juga mengundang seluruh
anggota untuk memperbaharui data keanggotaannya, sekaligus mengajak juga
teman-teman untuk menulis di situs web tersebut. Tersedia apresiasi bagi yang
telah minimal tiga kali menulis di situs web itu.
Jadi, mari menulis dan juga mari membayar iuran
keanggotaan IAAI.
Berthold DH Sinaulan
Ketua IAAI Komda Jabodetabek