Di awal aku berdiri di ruang hampa
Menatap sunyi, sepi tak bernama
Segala makna luruh tanpa sisa
Seakan gema semesta tanpa jiwa
Aku bertanya pada ruang hampa:
Apakah hidup sekadar lintasan waktu?
Jika kebenaran itu tiada yang mutlak
Mengapa hati tetap mencari sesuatu?
Dalam hampa aku mencoba memahami
Bahwa kekosongan seakan berisi
Ada gerak di dalam diam yang sepi
Ada suatu misteri yang tidak terperi
Kata Friedrich Nietzsche pernah mengguncang jiwa:
“Tuhan telah mati", gema itu menggoda
Namun relung hati enggan terlupa
Sebab hati nurani tak mudah dusta
Jika semua hanya kemungkinan
Jika hidup kebetulan semata
Mengapa doa tetap terucapkan
Saat jiwa terhimpit derita?
Langkahku goyah di antara tanya
Relativitas meretas makna
Probabilitas membuka celah
Namun tak mampu memberi arah
Hingga aku jatuh dalam sujud panjang
Di titik hancur, di batas hilang
Di sana sunyi tak lagi mengerikan
Ia menjelma menjadi panggilan
Perlahan aku mulai mengerti
Bahwa hampa bukan akhir hakiki
Di sanalah gerbang nur Illahi
Menuntun hati kembali berdiri
Tauhid hadir bukan sekadar kata
Ia cahaya bersinar dalam gulita
Mengikat makna, menata rasa
Bahwa hidup tak lagi tanpa arah
Kini aku tak lagi bertanya
Sebab makna telah bernaung nyata
Dalam satu Nama Yang Maha Esa
Tempat segala jiwa bersandar setia
Dari nihil aku pernah tersesat
Dari keraguan aku hampir terjerat
Namun dalam tauhid aku tersadar
Tiada selain Dia Yang Maha Benar
Hari Untoro Dradjat
23 Maret 2026