What's On J
137 Pembaca

Tradisi Baru, Menyambut Anggota Baru

Dewi Mardiani
Jabodetabek
14 September 2026

Tradisi baru telah dimulai Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat Daerah (Komda) Jabodetabek dengan menyambut para anggota baru yang telah disahkan oleh IAAI Pusat. Penyambutan terhadap 9 anggota baru berlangsung pada Rabu, 9 September 2026, di Gedung E Lantai 16, Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta Pusat. Selain anggota baru, juga dilaksanakan penerimaan dan pelepasan anggota yang mutasi, yaitu 1 orang ke Jabodetabek dan 2 orang keluar Jabodetabek, yaitu ke Bali dan Jawa Timur dengan alasan mengikuti pekerjaan.

Acara penyambutan dilakukan oleh jajaran pengurus IAAI Komda Jabodetabek, dipimpin oleh Wakil Ketua IAAI Komda Jabodetabek, St. Prabawa Dwi P, yang mengatakan bahwa pertemuan antara pengurus Komda dan para anggota baru merupakan langkah tindak lanjut dari hasil Rapat Pengurus IAAI Pusat dan seluruh Komda pada 28 Agustus 2026. Dalam rapat tersebut disampaikan keputusan IAAI Pusat untuk menerima sejumlah anggota baru, termasuk di dalamnya adalah dari Komda Jabodetabek.

“Berdasarkan keputusan tersebut, kami mewakili kepengurusan IAAI Komda Jabodetabek melaksanakan amanah tersebut dengan pertemuan kali ini dan menyampaikan Surat Keputusan (SK) pengangkatan anggota baru IAAI,” kata Prabawa.

“Kami menyambut para anggota baru, sekaligus perkenalan, dan nanti kami serahkan SK keanggotaannya,” tambah Sekretaris IAAI Komda Jabodetabek Judi Wahjudin. Disampaikan pula bahwa ini merupakan keputusan dari proses yang berlangsung sejak 2025 dan ada pula yang diproses pada 2026. Dengan keputusan dari IAAI Pusat mengenai keanggotaan baru tersebut, maka nama-nama yang diajukan sebelumnya melalui Bidang Organisasi dan Advokasi IAAI Komda Jabodetabek telah sah menjadi anggota IAAI.

Sementara itu, Koordinator Bidang Organisasi dan Advokasi, Roseri Rosdy Putri mengatakan, nama-nama anggota baru yang disahkan IAAI Pusat telah sesuai dengan yang diusulkan oleh Komda Jabodetabek. “Setelah semua proses dilalui, tibalah saatnya kita sampaikan hasil keputusannya,” tambah Roseri. Untuk berikutnya, nama-nama anggota baru akan dimasukkan ke dalam database keanggotaan yang bisa dipantau oleh yang bersangkutan melalui website IAAI Komda Jabodetabek. “setiap anggota bertanggung jawab akan informasi pribadi dengan memperkaya informasinya di akun masing-masing”.

Pertemuan yang diinisiasi oleh IAAI Komda Jabodetabek dihadiri juga oleh sejumlah pengurus periode 2025-2028. Masing-masing memperkenalkan diri dan bidang yang dipegang serta menyampaikan harapan terhadap anggota baru tersebut. Dalam kesempatan ini, hanya hadir lima orang anggota baru IAAI di Komda Jabodetabek, karena yang lain berhalangan dengan alasannya masing-masing.

Alasan dan Motivasi

Setelah diterima secara sah, para anggota baru juga diberikan kesempatan menyampaikan alasan dan motivasinya untuk bergabung dalam organisasi profesi ini. Mereka juga diminta mengutarakan beberapa hal yang menjadi perhatian masing-masing terhadap arkeologi, cagar budaya, dan organisasi profesi.

Haris Shantanu, lulusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Angkatan 1985 mengungkapkan tujuannya bergabung dengan IAAI.  Haris sejak lama berkeinginan membentuk Lingkar Studi Pengelolaan Budaya yang salah satu bidang kegiatannya mengadvokasi pelestarian cagar budaya. “Pernah coba mengadvokasi, hanya memang belum berhasil. Semoga dengan bergabung di IAAI, kita dapat membangun dan mendukung akar di bawah untuk upaya pelestarian.”

Diceritakannya juga, selepas dari NGO dia banyak bekerja sebagai konsultan untuk pemberdayaan masyarakat dan pelatihan, “Dan saya melihat perlunya hasil riset para arkeolog untuk didesain menjadi modul pelatihan untuk masyarakat sekitar cagar budaya untuk membangun rasa memiliki yang untuk kemudian terlibat dalam pengelolaan dan pelestariannya,” ujarnya lagi yang membuatnya berketetapan hari bergabung dengan IAAI, agar dapat berkontribusi bersama IAAI, untuk perlindungan dan pelestarian cagar budaya yang lebih luas.

Sementara itu, anggota baru lainnya, Firman, mengaku senang mendapat dukungan untuk bergabung di IAAI, meskipun bidang ilmunya bukan arkeologi. “Saya planolog dan sempat bekerja sama dengan Kementerian untuk kajian zonasi sejak tahun 2020. Saya di sini, melihat para senior dan bertanya apa yang kira-kira bisa saya bantu, termasuk untuk pengelolaan kawasan budaya,” ujarnya.

Bidang pelatihan dan aktif di komunitas kebudayaan merupakan ajang kegiatan yang dilakukan oleh Adi Sushantiyo. Pria lulusan Arkeologi Universitas Udayana tersebut mengakui kesibukannya saat ini tidak bersentuhan dengan arkeologi secara langsung. “Saya lebih banyak berkomunitas. Saat ini sedang menjalankan inisiatif pengenalan aksara-aksara nusantara (daerah dan kuna) ke publik, memanfaatkan ruang-ruang publik bersama kolektif bernama Galeri Aksara Indonesia (Galaksi). Di kolektif ini saya mengumpulkan individu maupun organisasi yang bergerak di bidang aksara untuk melakukan kegiatan seperti lokakarya pelatihan aksara, kaligrafi dan menulis lontar dan lain-lain,” ujarnya sambil menambahkan bahwa itulah alasannya untuk masuk ke IAAI, agar dapat menjalin networking dan tentu saja kesempatan berkolaborasi dengan jaringan IAAI yang ada.

Satu lagi anggota baru yang hadir adalah Kartiko S Herdiyanto, yang pernah berkarir di media massa elektronik. Menurut pengamatannya selama ini, organisasi profesi seperti IAAI perlu menjalin kerja sama dengan berbagai media massa. “saya berharap bisa membantu untuk menjembatani ke media tersebut. IAAI perlu repositioning dalam hal ini.” Dia juga berpendapat agar Komda Jabodetabek menciptakan kegiatan yang diperlukan oleh publik, sebagai bagian dari edukasi ke masyarakat.”

Dia menambahkan, walaupun sejak lulus, secara kelembagaan tidak berkecimpung di dunia arkeologi, tetapi pernah bekerja memanafaatkan kearkeologian menjadi special interest tour yang mengajak orang ke situs-situs arkeologi dengan pendekatan arkeologis, bukan dengan pariwisata secara umum. Di luar itu, dia agak menyesalkan jika ada hal-hal yang berhubungan dengann dunia arkeologi, IAAI kurang muncul, tidak seperti lembaga profesi lain jika ada masalah. Padahal IAAI menurut saya, lembaga profesi arkeologi satu satunya di Indonesia, harusnya menjadi top of mind jika ada kasus kepurbakalaan.

“Satu lagi, mengapa IAAI tidak memberi sentuhan arkeologi ke anak-anak sekolah? Di sini semua ahli arkeologi ada, tinggal mengajak ke situs, museum atau di sekolahan. Banyak yang menarik fakta dari dunia arkeologi yang bisa disampaikan. Saya pernah melakukannya saat kuliah, kami open house ke sekolah, seperti SMA Tarakanita, Al Azhar, SMA di Bogor dan sambutannya menyenangkan, tuturnya.

Senada dengan itu, adalah pernyataan dan tanggapan dari Fachry Badri, yang masuk sebagai anggota baru IAAI Komda Jabodetabek tahun ini. Fachry adalah praktisi marketing sejak lulus kuliah namun minatnya ke pelestarian dan cagar budaya selalu hidup. “Saya melihat, kita sulit melibatkan banyak pihak dalam pelestarian cagar budaya. Perlu upaya untuk ‘memasarkannya bukan dalam pengertian komersial, melainkan untuk membangun rasa memiliki, sehingga upaya pelestarian dapat dilakukan bersama-sama,” katanya.

Dalam pada itu, Eka Kartika Sanur, yang merupakan lulusan UI mengatakan, “Alasan saya untuk bergabung di organisasi ini, karena saya melihat banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Di antaranya: silaturahmi dan perkenalan dengan rekan rekan alumnus Arkeologi dari berbagai universitas di Indonesia lintas angkatan. Kemudian, adanya ajang saling berbagi ilmu untuk remind kembali keilmuan yang pernah di dapatkan selama mengenyam pendidikan. Apalagi saya yang notabene tidak berkecimpung dan bersinggungan langsung dengan dunia kearkeologian secara "utuh". Saya merasa terbuka wawasan dengan banyaknya kegiatan keilmuan maupun kegiatan sosial-budaya yang telah dilakukan oleh organisasi ini demi kemajuan dunia arkeologi khususnya dan pemajuan kebudayaan Indonesia.”

Meningkatkan Kegiatan

Secara lengkap nama-nama anggota baru tersebut adalah 1. Haris Shantanu; 2. Nindi Jawaning Aji; 3. Firman; dari Keputusan Ketua Umum IAAI Tahun 2025, dan 4. Eka Kartika Sanur; 5. Fachry Badry; 6. Kartiko S. Herdiyanto; 7. Adi Sushantiyo; 8. Deddy Setiawan; dan 9. Natakya Calista dari Keputusan Ketua Umum IAAI Tahun 2026. Sementara mutase masuk adalah 1. Aryandini Novita, mutasi dari Komda Sumbagsel, dan mutase keluar adalah Adzmi Akbar Maulana yang mutasi ke Komda Bali; dan Indra Eka Widya Jaya yang mutasi ke Komda Jawa Timur.

Para pengurus yang hadir berharap agar anggota-anggota baru dapat berkiprah mengembangkan potensinya dan aktif dalam berkegiatan di Komda Jabodetabek. Potensi-potensi yang disampaikan para anggota baru, menurut Judi, membuka peluang untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Komda. Keaktifan anggota memang merupakan salah satu syarat untuk terus dapat dianggap sebagai anggota.

Prabawa juga menyampaikan sekaligus mengingatkan bahwa para anggota diharapkan tetap melaksanakan kewajibannya, termasuk dalam menunaikan iuran keanggotaan demi kelancaran kegiatan organisasi profesi. “Tentunya kami selaku pengurus akan menyampaikan hak-hak yang sudah seharusnya bisa didapatkan oleh para anggota.” (wed). 
 












 

TAGS: #arkeologi #iaai #jabodetabek #50tahun #whatsonJ