Tradisi baru telah dimulai Perkumpulan Ahli
Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat Daerah (Komda) Jabodetabek dengan
menyambut para anggota baru yang telah disahkan oleh IAAI Pusat. Penyambutan terhadap
9 anggota baru berlangsung pada Rabu, 9 September 2026, di Gedung E Lantai 16,
Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta Pusat. Selain anggota baru, juga
dilaksanakan penerimaan dan pelepasan anggota yang mutasi, yaitu 1 orang ke
Jabodetabek dan 2 orang keluar Jabodetabek, yaitu ke Bali dan Jawa Timur dengan
alasan mengikuti pekerjaan.
Acara penyambutan dilakukan oleh jajaran
pengurus IAAI Komda Jabodetabek, dipimpin oleh Wakil Ketua IAAI Komda
Jabodetabek, St. Prabawa Dwi P, yang mengatakan bahwa pertemuan antara pengurus
Komda dan para anggota baru merupakan langkah tindak lanjut dari hasil Rapat
Pengurus IAAI Pusat dan seluruh Komda pada 28 Agustus 2026. Dalam rapat
tersebut disampaikan keputusan IAAI Pusat untuk menerima sejumlah anggota baru,
termasuk di dalamnya adalah dari Komda Jabodetabek.
“Berdasarkan keputusan tersebut, kami mewakili
kepengurusan IAAI Komda Jabodetabek melaksanakan amanah tersebut dengan
pertemuan kali ini dan menyampaikan Surat Keputusan (SK) pengangkatan anggota
baru IAAI,” kata Prabawa.
“Kami menyambut para anggota baru, sekaligus
perkenalan, dan nanti kami serahkan SK keanggotaannya,” tambah Sekretaris IAAI
Komda Jabodetabek Judi Wahjudin. Disampaikan pula bahwa ini merupakan keputusan
dari proses yang berlangsung sejak 2025 dan ada pula yang diproses pada 2026.
Dengan keputusan dari IAAI Pusat mengenai keanggotaan baru tersebut, maka
nama-nama yang diajukan sebelumnya melalui Bidang Organisasi dan Advokasi IAAI
Komda Jabodetabek telah sah menjadi anggota IAAI.
Sementara itu, Koordinator Bidang Organisasi dan
Advokasi, Roseri Rosdy Putri mengatakan, nama-nama anggota baru yang disahkan
IAAI Pusat telah sesuai dengan yang diusulkan oleh Komda Jabodetabek. “Setelah
semua proses dilalui, tibalah saatnya kita sampaikan hasil keputusannya,” tambah
Roseri. Untuk berikutnya, nama-nama anggota baru akan dimasukkan ke dalam database
keanggotaan yang bisa dipantau oleh yang bersangkutan melalui website
IAAI Komda Jabodetabek. “setiap anggota bertanggung jawab akan informasi
pribadi dengan memperkaya informasinya di akun masing-masing”.
Pertemuan yang diinisiasi oleh IAAI Komda
Jabodetabek dihadiri juga oleh sejumlah pengurus periode 2025-2028. Masing-masing
memperkenalkan diri dan bidang yang dipegang serta menyampaikan harapan
terhadap anggota baru tersebut. Dalam kesempatan ini, hanya hadir lima orang
anggota baru IAAI di Komda Jabodetabek, karena yang lain berhalangan dengan
alasannya masing-masing.
Alasan dan Motivasi
Setelah diterima secara sah, para anggota baru juga
diberikan kesempatan menyampaikan alasan dan motivasinya untuk bergabung dalam
organisasi profesi ini. Mereka juga diminta mengutarakan beberapa hal yang
menjadi perhatian masing-masing terhadap arkeologi, cagar budaya, dan
organisasi profesi.
Haris Shantanu, lulusan Arkeologi Universitas
Gadjah Mada (UGM) Angkatan 1985 mengungkapkan tujuannya bergabung dengan IAAI. Haris sejak lama berkeinginan membentuk
Lingkar Studi Pengelolaan Budaya yang salah satu bidang kegiatannya
mengadvokasi pelestarian cagar budaya. “Pernah coba mengadvokasi, hanya memang
belum berhasil. Semoga dengan bergabung di IAAI, kita dapat membangun dan
mendukung akar di bawah untuk upaya pelestarian.”
Diceritakannya juga, selepas dari NGO dia banyak
bekerja sebagai konsultan untuk pemberdayaan masyarakat dan pelatihan, “Dan
saya melihat perlunya hasil riset para arkeolog untuk didesain menjadi modul
pelatihan untuk masyarakat sekitar cagar budaya untuk membangun rasa memiliki
yang untuk kemudian terlibat dalam pengelolaan dan pelestariannya,” ujarnya
lagi yang membuatnya berketetapan hari bergabung dengan IAAI, agar dapat
berkontribusi bersama IAAI, untuk perlindungan dan pelestarian cagar budaya
yang lebih luas.
Sementara itu, anggota baru lainnya, Firman,
mengaku senang mendapat dukungan untuk bergabung di IAAI, meskipun bidang
ilmunya bukan arkeologi. “Saya planolog dan sempat bekerja sama dengan
Kementerian untuk kajian zonasi sejak tahun 2020. Saya di sini, melihat para
senior dan bertanya apa yang kira-kira bisa saya bantu, termasuk untuk
pengelolaan kawasan budaya,” ujarnya.
Bidang pelatihan dan aktif di komunitas
kebudayaan merupakan ajang kegiatan yang dilakukan oleh Adi Sushantiyo. Pria
lulusan Arkeologi Universitas Udayana tersebut mengakui kesibukannya saat ini
tidak bersentuhan dengan arkeologi secara langsung. “Saya lebih banyak
berkomunitas. Saat ini sedang menjalankan inisiatif pengenalan aksara-aksara
nusantara (daerah dan kuna) ke publik, memanfaatkan ruang-ruang publik bersama
kolektif bernama Galeri Aksara Indonesia (Galaksi). Di kolektif ini saya
mengumpulkan individu maupun organisasi yang bergerak di bidang aksara untuk
melakukan kegiatan seperti lokakarya pelatihan aksara, kaligrafi dan menulis
lontar dan lain-lain,” ujarnya sambil menambahkan bahwa itulah alasannya untuk
masuk ke IAAI, agar dapat menjalin networking dan tentu saja kesempatan
berkolaborasi dengan jaringan IAAI yang ada.
Satu lagi anggota baru yang hadir adalah Kartiko
S Herdiyanto, yang pernah berkarir di media massa elektronik. Menurut
pengamatannya selama ini, organisasi profesi seperti IAAI perlu menjalin kerja
sama dengan berbagai media massa. “saya berharap bisa membantu untuk
menjembatani ke media tersebut. IAAI perlu repositioning dalam hal ini.”
Dia juga berpendapat agar Komda Jabodetabek menciptakan kegiatan yang diperlukan
oleh publik, sebagai bagian dari edukasi ke masyarakat.”
Dia menambahkan, walaupun sejak lulus, secara
kelembagaan tidak berkecimpung di dunia arkeologi, tetapi pernah bekerja
memanafaatkan kearkeologian menjadi special interest tour yang mengajak
orang ke situs-situs arkeologi dengan pendekatan arkeologis, bukan dengan
pariwisata secara umum. Di luar itu, dia agak menyesalkan jika ada hal-hal yang
berhubungan dengann dunia arkeologi, IAAI kurang muncul, tidak seperti lembaga
profesi lain jika ada masalah. Padahal IAAI menurut saya, lembaga profesi
arkeologi satu satunya di Indonesia, harusnya menjadi top of mind jika
ada kasus kepurbakalaan.
“Satu lagi, mengapa IAAI tidak memberi sentuhan
arkeologi ke anak-anak sekolah? Di sini semua ahli arkeologi ada, tinggal
mengajak ke situs, museum atau di sekolahan. Banyak yang menarik fakta dari
dunia arkeologi yang bisa disampaikan. Saya pernah melakukannya saat kuliah,
kami open house ke sekolah, seperti SMA Tarakanita, Al Azhar, SMA di Bogor
dan sambutannya menyenangkan, tuturnya.
Senada dengan itu, adalah pernyataan dan
tanggapan dari Fachry Badri, yang masuk sebagai anggota baru IAAI Komda
Jabodetabek tahun ini. Fachry adalah praktisi marketing sejak lulus kuliah
namun minatnya ke pelestarian dan cagar budaya selalu hidup. “Saya melihat,
kita sulit melibatkan banyak pihak dalam pelestarian cagar budaya. Perlu upaya
untuk ‘memasarkannya bukan dalam pengertian komersial, melainkan untuk membangun
rasa memiliki, sehingga upaya pelestarian dapat dilakukan bersama-sama,”
katanya.
Dalam pada itu, Eka Kartika Sanur, yang
merupakan lulusan UI mengatakan, “Alasan saya untuk bergabung di organisasi
ini, karena saya melihat banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Di antaranya:
silaturahmi dan perkenalan dengan rekan rekan alumnus Arkeologi dari berbagai universitas
di Indonesia lintas angkatan. Kemudian, adanya ajang saling berbagi ilmu untuk remind
kembali keilmuan yang pernah di dapatkan selama mengenyam pendidikan. Apalagi
saya yang notabene tidak berkecimpung dan bersinggungan langsung dengan dunia
kearkeologian secara "utuh". Saya merasa terbuka wawasan dengan
banyaknya kegiatan keilmuan maupun kegiatan sosial-budaya yang telah dilakukan
oleh organisasi ini demi kemajuan dunia arkeologi khususnya dan pemajuan
kebudayaan Indonesia.”
Meningkatkan Kegiatan
Secara lengkap nama-nama anggota baru tersebut
adalah 1. Haris Shantanu; 2. Nindi Jawaning Aji; 3. Firman; dari Keputusan
Ketua Umum IAAI Tahun 2025, dan 4. Eka Kartika Sanur; 5. Fachry Badry; 6. Kartiko
S. Herdiyanto; 7. Adi Sushantiyo; 8. Deddy Setiawan; dan 9. Natakya Calista
dari Keputusan Ketua Umum IAAI Tahun 2026. Sementara mutase masuk adalah 1.
Aryandini Novita, mutasi dari Komda Sumbagsel, dan mutase keluar adalah Adzmi
Akbar Maulana yang mutasi ke Komda Bali; dan Indra Eka Widya Jaya yang mutasi
ke Komda Jawa Timur.
Para pengurus yang hadir berharap agar
anggota-anggota baru dapat berkiprah mengembangkan potensinya dan aktif dalam
berkegiatan di Komda Jabodetabek. Potensi-potensi yang disampaikan para anggota
baru, menurut Judi, membuka peluang untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan di Komda. Keaktifan anggota memang merupakan salah satu syarat
untuk terus dapat dianggap sebagai anggota.
Prabawa juga menyampaikan sekaligus mengingatkan
bahwa para anggota diharapkan tetap melaksanakan kewajibannya, termasuk dalam
menunaikan iuran keanggotaan demi kelancaran kegiatan organisasi profesi.
“Tentunya kami selaku pengurus akan menyampaikan hak-hak yang sudah seharusnya
bisa didapatkan oleh para anggota.” (wed).