Dewi Mardiani
Tangerang Selatan, 19 January 2026Memulai
berbisnis bagi tiap orang tentu berbeda-beda ceritanya. Ada yang mengawalinya
dari bawah dengan modal minim, ada pula yang mengembangkan usahanya dari dasar
yang sudah mapan. Hasil yang didapat tentu berbeda. Ada yang sukses dan tak
sedikit yang gagal. Hanya, seperti pepatah yang dikutip untuk memberi semangat,
bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
Cerita
sukses bisnis ritel Alfamart berawal dari seorang pedagang yang hijrah dari
Negeri Tiongkok ke Batavia pada 1930-an, yaitu Kwok Man Tok yang memutuskan pergi
ke Batavia dan menetap di area Glodok. Dia mulai berdagang di sana dan lima
tahun kemudian menikahi gadis yang juga anak perantauan dari Tiongkok, Wong Sat
Nyang. Keduanya mengalami masa sulit dengan berpindah-pindah rumah, sampai
berakhir di daerah Petojo, Jakarta Pusat. Pasutri ini kemudian dianugerahi 11
orang putra dan putri.
Bapak Kwok
Man Tok menanamkan dasar pendidikan dan pengetahuan hidup dari praktik sehari-hari
kepada anak-anaknya. Mereka hidup berkat dagangan di warung kelontong depan
rumahnya. Usahanya berkembang, sehingga dibangunlah warung berikutnya, yaitu “Sumber
Bahagia” di Pasar Royal, Jakarta. Pembagian tugas dalam menjalankan warung
kelontong diatur di dalam keluarga. Sang ayah mengajarkan kepada anak-anaknya soal
penjualan, memilih barang, dan strategi mengelola uang. Sementara sang ibu
mengajarkan tentang cara mengelola warung dan melayani pelanggan.
Kisah
hidup keluarga itu menginspirasi Kwok Kwie Fo, anak ke-7 Kwok Man Tok, untuk
diceritakan kembali di Alfa Gallery. Djoko Santoso adalah Kwok Kwie Fo atau A
Kwie kecil yang lahir pada tahun 1950, dan sekarang dikenal sebagai pendiri dan
pemilik Jaringan Alfamart. Seperti ayahnya, Djoko muda merintis usaha dagang sendiri
di warung kelontong dengan barang jualan utamanya adalah rokok. Warung itu
berkembang dengan sejumlah lini usaha lainnya yang kini meraih kesuksesan di
jaringan ritel Alfamart.
Alfa Gallery
menampilkan seluruh fase kehidupan dan bisnis yang dilalui Djoko Santoso dalam
bentuk diorama, miniatur, dan replika, serta ditampilkan pula beberapa barang
aslinya. Bidang pamer di ruang galeri penuh diisi dengan foto dan gambar
keluarga, lengkap dengan uraiannya. Bahkan kita juga akan menjumpai sepeda dan
mobil milik Djoko di masa awal bisnisnya.
Dalam ruang
pamer diputar juga video perjalanan hidup Djoko Santoso, termasuk juga Djoko dalam
tayangan hologram yang mengisahkan banyak hal terkait masa lalu. Semua koleksi
yang ada di galeri dipasang dengan apik dengan sebagian ditata dan dioperasikan
menggunakan teknologi terkini.
Pada
umumnya, sebuah galeri berisi koleksi seni budaya, lukisan, juga benda-benda
cagar budaya yang tak ternilai harganya. Namun berbeda dengan Alfa Gallery, di
sana menampilkan koleksi dan informasi yang khas mengenai bisnis ritel. Inilah yang
membuat Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komda Jabodetabek tertarik
untuk mengunjunginya pada Jumat, 19 Desember 2025. IAAI Komda Jabodetabek menilai
bahwa Alfa Gallery memberikan wawasan tersendiri yang penting untuk diketahui
untuk pengembangan permuseuman, galeri, dan kecagarbudayaan. Ketertarikan ini mendapat
sambutan dari salah satu pengelola galeri, yaitu Rafael Bagas Ananta, yang juga
anggota IAAI Komda Jabodetabek.
Rafael
mengatakan, Alfa Gallery tak sekadar memperlihatkan runutan perjuangan seorang
pebisnis ritel di Indonesia. Dia menyebutkan bahwa galeri ini menjadi ajang
nostalgia, apresiasi, dan kebanggaan seorang anak atas keberhasilan ajaran dari
kedua orang tuanya. Rafael menyebutkan, Pak Djoko ingin agar inspirasi Ilmu
Dagang dan kunci kesuksesan yang didapatnya bisa menjadi pelajaran penting
untuk diterapkan.
Suguhan di
Alfa Gallery ini kental nuansa ketekunan dan keteguhan seorang pebisnis yang
patut dicontoh oleh banyak orang. Pedagang handal yang berjuang dengan gigih
dari bawah, kemudian melebarkan sayapnya hingga menjadi jaringan ritel nasional
yang merambah ke mancanegara.
Alfa
Gallery yang berlokasi di Universitas Bunda Mulia (UBM) Tower, Alam Sutera,
Tangerang, Banten, merupakan aset istimewa milik Alfa Group dan UMB. Untuk
berkunjung ke Alfa Gallery diperlukan izin atau undangan khusus. Tidak seperti
memasuki museum dengan loket tiket di bagian depan. Bagi yang ingin berkunjung ke Alfa Gallery, bisa melakukan
registrasi kunjungan di https://alfagallery.id/. (DM)
TAGS:
##museum #galeri #arkeologi #iaai #komdajabodetabek #alfagroup #djokosantoso