Di kalangan kolektor benda-benda kenangan
(memorabilia), ada yang menyukai mengoleksi benda filateli (prangko dan
benda-benda pos lainnya). Kolektornya yang disebut filatelis, jumlahnya sangat banyak
di seluruh dunia, yang mulai ada sejak prangko pertama diterbitkan di dunia
pada 6 Mei 1840, yaitu prangko bergambar wajah Ratu Victoria, yang saat ini
menjadi penguasa Kerajaan Inggris Raya.
Demikian banyaknya filatelis, sampai-sampai pernah
ada ungkapan filateli atau hobi mengoleksi prangko adalah “king of hobbies
and hobby of kings” (raja dari segala hobi, dan hobi para raja). Filateli
atau hobi mengoleksi prangko dan benda pos lainnya dianggap sebagai rajanya
hobi, karena penggemarnya sampai puluhan dan bahkan ratusan juta di seluruh
dunia. Disebut pula sebagai hobinya para raja, karena sejak awal prangko hadir
banyak kepala negara yang umumnya raja dan ratu ikut pula mengoleksi prangko.
Di antara yang paling terkenal adalah Ratu Elizabeth II dari Inggris yang
akhirnya melahirkan lembaga Royal Philatelic Society (RPS), suatu
organisasi filateli yang mengelola koleksi benda filateli milik keluarga
Kerajaan Inggris.
Sedangkan di Amerika Serikat, umumnya presiden
dari negara itu juga menggemari filateli. Namun, yang paling “getol” adalah
Presiden Franklin Delano Roosevelt, yang mempunyai banyak sekali album prangko
ditata rapi dalam perpustakaannya.
Kini, menyambut 50 Tahun Perkumpulan Ahli
Arkeologi Indonesia (IAAI) diterbitkan pula benda filateli berupa Sampul
Peringatan (SP) dalam edisi cetakan terbatas oleh PT Pos Indonesia. Hanya
dicetak sebanyak 100 lembar, SP berupa amplop surat dengan prangko khusus 50
tahun IAAI itu didesain oleh Yoki Rendra P,, Anggota IAAI Komda jabodetabek, dan dilengkapi dengan logo 50 Tahun
IAAI yang dikerjakan oleh Tim Desain IAAI Pusat. Penerbitan SP tersebut digagas
dan dipersembahkan oleh IAAI Komda Jabodetabek periode 2025-2028.
Desainnya menggambarkan Museum Sejarah Jakarta,
salah satu bangunan cagar budaya ikonik dari Jakarta, dengan semburat matahari
baru merekah, menandakan fajar menyingsing di usianya ke-50, yang diharapkan
akan menjadikan IAAI makin berkembang untuk 50 tahun ke depan, dan seterusnya.
Penerbitan SP yang dicetak sangat terbatas itu,
dijual dengan harga hanya Rp 30.000 untuk anggota IAAI dan Rp 40.000 untuk
umum. Hasil penjualan SP sepenuhnya masuk ke dalam kas IAAI. Peminat dapat
menghubungi Pengurus IAAI Komda Jabodetabek melalui kontak di situs web ini. (BDHS)