Bincang-bincang Kesehatan khususnya mengenai penyakit jantung telah dilaksanakan
oleh IAAI Komda Jabodetabek sebagai rangkaian perayaan Ulang Tahun IAAI ke-50
pada Sabtu 7 Februari 2026 bertempat di Kantor BRIN Pejaten. Penyakit jantung
diambil sebagai topik bahasan mengingat banyaknya kabar atau berita di
masyarakat mengenai seseorang meninggal mendadak yang tidak lain disebabkan
oleh serangan jantung.
Acara dimulai pukul 10.00 WIB dengan diawali menyanyikan lagu kebangsaan
Indonesia Raya dan pembacaan doa. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari
Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, DR Irfan Mahmud yang
menyambut baik gagasan bincang-bincang Kesehatan Jantung ini dan berharap dapat
dilanjutkan dengan program IAAI lainnya. Diikuti sambutan dari Ketua IAAI Komda
Jabodetabek, Berthold DH Sinaulan yang mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang bisa hadir, khususnya kepada narasumber yang bersedia berbagi
pengetahuan terkait Kesehatan jantung. Narasumber untuk Bincang-bincang
Kesehatan Jantung ini adalah Dr. Marulam Panggabean SpPD, KKV, SpJP, seorang
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah yang berpraktik di beberapa rumah sakit
besar di Jakarta. Bertindak sebagai
moderator dalam Bincang-bincang adalah Nora Ekawani dari IAAI Komda
Jabodetabek.
Pemaparan dibuka dengan pembahasan bermacam jenis penyakit jantung yang
sudah cukup dikenal umum seperti jantung koroner, jantung rematik, jantung
hipertensi, jantung bawaan dan lain sebagainya. Berdasarkan penelitian terdapat
lebih dari 46% penderita penyakit jantung di Indonesia adalah penyakit jantung
koroner. Selanjutnya dijelaskan dengan rinci mengenai proses serangan jantung
dan bagaimana bisa terjadi penyempitan pada pembuluh darah. Faktor resiko
seperti hipertensi, genetik, hiperkolesterolemia, diabetes militus,
rokok dan usia juga turut berperan menjadi penyumbang deretan penderita
penyakit jantung.
Bagi para penderita jantung kata-kata pemasangan ring dan bypass
tentu bukan hal baru. Perbedaan pemasangan ring dan bypass pada
penderita jantung juga dijelaskan dengan gamblang oleh Dr. Marulam. Pada penderita
mana yang harus dilakukan pemasangan ring dan penderita mana yang harus
dilakukan bypass. Hal penting yang juga dipaparkan Dr. Marulam
adalah mengenai ciri dan gejala penderita jantung yang perlu diwaspadai dan
dicermati seperti misalnya nyeri di dada, rasa seperti tertekan, atau pusing,
sesak nafas, berdebar-debar, pingsan tiba-tiba dan rasa letih yang terus
menerus, sehingga diharapkan para arkeolog dan masyarakat yang merasa mempunyai
gejala-gejala tersebut tidak perlu menunda-nunda pemeriksaan, demi menjaga
kesehatan diri.
Pada sesi tanya jawab banyak pertanyaan dilontarkan para peserta yang
sebagian besar adalah anggota Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komda
Jabodetabek. Semua pertanyaan dijawab Dr Marulam dengan lugas dan sesekali diselingi
canda sehingga merubah suasana dari yang begitu serius menjadi lebih cair dan
hangat. Terlebih karena pada akhir bincang-bincang juga dihadirkan seorang
dokter muda, ahli imunologi dan peneliti genomic, yang juga seorang dosen dari
FKUI. Dia juga merupakan putra dari Dr Marulam, yaitu Dr. Ariel Pradipta, M.Res,
PhD. Pertanyaan pesertapun terus mengalir dan berkembang dan terus dijawab sesuai
keahlian dokter Ariel.
Acara bincang-bincang ditutup dengan penyerahan Plakat IAAI Komda
Jabodetabek oleh Berthold DH Sinaulan, Ketua Komda Jabodetabek kepada Kepala
Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, DR Irfan Mahmud, narasumber Dr.
Marulam Panggabean, dan moderator, Nora Ekawani. Foto bersama seluruh peserta
menandai akhir dari acara bincang-bincang kesehatan, dan ditutup dengan ramah tamah serta makan siang bersama. (NEW)