Setiap mendengar kata Tahun Baru, selalu saja
banyak orang langsung menatapnya dengan penuh harapan. Tahun Baru menyiratkan
impian, harapan, dan doa untuk masa depan yang lebih baik.
Lho, kenapa membahas mengenai Tahun Baru padahal
sekarang sudah bukan bulan Januari? Sekarang sudah bulan Maret. Benar. Namun, Tahun
Baru pernah dirayakan pada bulan Maret, tepatnya tanggal 1 Maret. Di masa
Romawi kuno pada ribuan tahun silam, ketika Romulus berkuasa sebagai Kaisar
Roma antara kurun 735 sampai 715 Sebelum Masehi, sistem penanggalan kalender
hanya terdiri dari 304 hari dalam 10 bulan. Bulan pertama adalah Martius
(Maret).
Perubahan baru terjadi sekian masa kemudian,
ketika Romawi berada di bawah kekuasaan Numa Pompilius. Dia menambahkan dua
bulan, yaitu Ianuarius (Januari) dan Februarius (Februari). Maka, bulan pertama
menjadi Januari, menggantikan Maret. Tahun Baru pun dirayakan pada 1 Januari.
Maka, ketika saat ini kita memasuki awal Maret, bukan
lagi Tahun Baru. Namun, sudah masuk ke dalam bulan ketiga pada 2026. Lalu,
apakah yang telah dilaksanakan IAAI Komda Jabodetabek pada kuartal pertama
tahun ini?
Harus diakui belum banyak. Kita baru mengadakan syukuran
sederhana menyambut 50 Tahun IAAI bertepatan dengan tanggal ulang tahunnya pada
4 Februari 2026. Acara tersebut diadakan di Gedung E Kementerian Kebudayaan,
Senayan, Jakarta. Pada tanggal itu juga diluncurkan secara resmi situs web IAAI
Komda Jabodetabek. Masih di tanggal yang sama, diluncurkan pula Sampul
Peringatan (SP) 50 Tahun IAAI, yang diterbitkan oleh IAAI Komda Jabodetabek
dengan dukungan PT Pos Indonesia, dalam jumlah yang sangat terbatas, hanya 100
eksemplar.
Selanjutnya, telah digelar pula acara Bincang-bincang Kesehatan mengenai penyakit jantung di Gedung BRIN Pejaten
pada Sabtu, 7 Februari 2026. Bertindak sebagai narasumber adalah Dr. Marulam
Panggabean SpPD, KKV, SpJP, seorang Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah yang
berpraktik di beberapa rumah sakit besar di Jakarta.
Kemudian apa lagi? Rencananya, IAAI Komda
Jabodetabek juga akan menyelenggarakan seminar ilmiah – mungkin dalam bentuk
Diskusi Ilmiah Arkeologi (DIA) – terkait studi arkeologi dan perkembangannya.
Direncanakan pula akan diterbitkan buku khusus menyambut 50 Tahun IAAI. Selain
berisikan sejarah IAAI, dibahas pula kemungkinan ada sejumlah artikel ilmiah
populer, yang sedikitnya membahas mengenai studi prasejarah, pengaruh
Hindu-Buddha, pengaruh Islam, dan studi arkeologi kolonial di Indonesia.
Masih ada lagi sejumlah kegiatan yang
direncanakan. Mulai dari sosialisasi arkeologi dan cagar budaya untuk para
pelajar, bimbingan teknis terkait dengan uji kompetensi yang diakui melalui
sertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), pelatihan paralegal cagar
budaya, dan beberapa lainnya seperti upaya mendokumentasikan kembali Candi
Borobudur dalam bentuk foto dan ilustrasi grafis, yang sudah pernah
didokumentasikan oleh NJ Krom dalam tiga buku monografinya yang legendaris pada
1927. Untuk hal ini, rencananya berkolaborasi dengan Pengurus Pusat IAAI,
karena akan melibatkan pula Komda lainnya di luar Jabodetabek.
Di luar itu semua, dalam merayakan 50 tahun IAAI
selama setahun penuh pada 2026 ini, Pengurus Pusat IAAI telah menetapkan tema
peringatannya. Tema tersebut adalah Menguak Jejak, Membingkai Nilai,
Menguatkan Masa Depan. Tema tersebut
dipilih untuk memberi penanda bahwa IAAI siap merefleksikan peran penting
arkeologi dalam menggali sejarah masa lalu (menguak jejak), memberikan
pemaknaan terhadap warisan budaya (membingkai nilai), serta berkontribusi nyata
dalam pembangunan bangsa yang berkelanjutan (menguatkan masa depan).
Lalu, bagaimanakah dengan kita para anggota IAAI
Komda Jabodetabek? Siap jugakah kita untuk melakukan aktivitas sejalan dengan
tema tersebut? Bila membahas tentang menggali sejarah masa lalu (menguak jejak)
dan memberikan pemaknaan terhadap warisan budaya (membingkai nilai), mungkin
sudah sering dilakukan. Namun, bagaimana dengan upaya berkontribusi nyata dalam
pembangunan bangsa yang berkelanjutan (menguatkan masa depan)?
Sejak awal abad ke-21, kita telah semakin
mengenal istilah arkeologi untuk masa depan (archaeology for the future).
Pada awal tahun 2000-an, sejumlah ilmuwan telah menggunakan istilah itu. UNESCO,
badan PBB untuk ilmu dan kebudayaan pada 2017 juga telah menjadikan salah satu
tema dan pokok bahasannya, Heritage Futures.
Secara umum, arkeologi untuk masa
depan adalah konsep multifaset (banyak segi, aspek, ciri, dan dimensi) yang
menggeser fokus disiplin ilmu ini dari sekadar meneliti masa lalu menjadi
secara aktif membentuk masa depan yang berkelanjutan dan memahami dampak kita
saat ini. Konsep ini melibatkan penggunaan ketahanan manusia di masa lampau
untuk mengatasi krisis modern seperti perubahan iklim, memanfaatkan teknologi
canggih seperti artificial intelligent dan penginderaan jarak jauh untuk
pelestarian, serta secara kritis meneliti apa yang akan dikomunikasikan oleh teknofosil kontemporer kita kepada peradaban masa depan. Topik ini
menarik untuk dibahas dan dikaji lebih lanjut. Ada yang berminat mendalaminya?
Menutup Kata Ketua edisi
Maret 2026, izinkan saya atas nama seluruh pengurus IAAI Komda Jabodetabek
mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan 1447 Hijriah.
Semoga ibadah berjalan lancar sampai ke hari kemenangan di Hari Raya Idul Fitri
mendatang.
Berthold DH Sinaulan
Ketua IAAI Komda Jabodetabek