Informasi duka mewarnai grup-grup WhatsApp
di kalangan arkeologi, pada Jumat, 6 Maret 2026 dini hari. Saat itu, sebagian
besar anggota grup percakapan tengah mempersiapkan diri bersantap sahur. Berita
duka tersebut menginformasikan salah seorang anggota Perkumpulan Ahli Arkeologi
Indonesia (IAAI) Komda Jabodetabek, RR Nanny Harnani binti Syarief Abdurachman (Nomor
Anggota 19890232) telah wafat.
Almarhumah berpulang setelah beberapa tahun
menderita sakit. Ibu dari Saras Anindya dan Ramadhan Nurahman ini wafat pada
Kamis, 5 Maret, pukul 23.30 WIB. Menurut informasi dari menantu almarhumah,
Nico Alamsyah, ibu mertuanya wafat di kediaman, di Perumahan Puri Depok Mas
Blok D Nomor 6, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat.
Nanny mulai mengenal dan belajar mengenai
arkeologi sejak kuliah di Universitas Indonesia (UI). Hanya, pertama kali
kuliah, beliau mengambil jurusan Antropologi pada tahun 1979. Setahun kemudian,
dia pindah jurusan ke Arkeologi.
Sekilas informasi bahwa pada tahun itu, Jurusan
Antropologi dan Arkeologi berada dalam satu naungan di Fakultas Sastra UI
(FSUI). Baru pada tahun 1980-an Antropologi ditarik masuk ke salah satu jurusan
di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP UI).
Menurut Djulianto (Arkeologi 1979), di masa itu
banyak terjadi dan sering dilakukan para mahasiswa yang berpindah jurusan.
“Biasanya ada penawaran untuk pindah dan di masa itu ganti jurusan sangat lumrah
dilakukan,” cerita penulis yang sering disapa Dju.
Ilmu arkeologi dan antropologi bisa dibilang ‘beda
tipis’ untuk kajiannya. Mungkin hal ini yang membuat Nanny hijrah ke ilmu
arkeologi. Dalam perkembangannya, bidang tersebut justru menjadi dasar baginya untuk
memilih tempat bekerja. Setelah lulus kuliah, pekerjaan yang dipilihnya adalah
di lembaga yang ada kaitannya dengan arkeologi.
Pada tahun 1988, Nanny diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pusat
Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), sebelum bergabung dalam Badan
Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Masuknya bareng sama saya, pensiunnya pun di
tahun yang sama dengan saya,” ujar Bendahara IAAI Komda Jabodetabek, Vita
Mattori, saat dihubungi, Selasa, 10 Maret 2026 sore. Menurut Vita, saat
penerimaan PNS di Puslit Arkenas, Nanny yang mengambil pendalaman bidang
arkeologi klasik, ditempatkan di bagian kesekretariatan. Berikutnya, lanjut
dia, istri dari Siswoyo Adi (Arkeologi UI 1979) ini pindah ke bagian keuangan
Puslit Arkenas, sampai pensiun pada tahun 2018. “Orangnya baik dan ramah. Setahu
saya, selama di Puslit, beliau itu rajin ikut senam dan acara-acara yang
diadakan Puslit”.
Bekerja di Puslit Arkenas rupanya memancing
minat putri sulungnya, Saras, untuk ikut bergabung di lembaga penelitian
tersebut. Di tempat itulah, Saras berkenalan dengan Nico yang juga lulusan
Arkeologi UI. Dia kemudian menjadi menantu Nanny pada April 2019.
Wafatnya Nanny meninggalkan duka bagi keluarga, juga
rekan-rekannya di dunia arkeologi dan Puslit Arkenas. Dalam komunikasi melalui
hubungan telepon, suami almarhumah, Siswoyo atau akrab disapa Ciwo,
menyampaikan permohonan agar rekan-rekannya mendoakan kepergian Nanny. “Maafkan
juga segala kesalahannya, ya” lanjut dia.
Doa-doa terbaik mengantarkan jenazah almarhumah
ke tempat peristirahatan terakhirnya di Bogor, Jawa Barat, pada Jumat, 6 Maret
2026 siang. “Kami memutuskan untuk memakamkannya di TPU Dreded, Bogor, setelah
Shalat Jumat” kata Ciwo.
Semoga almarhumah kembali ke haribaan Allah SWT
dalam keadaan husnul khatimah dan beristirahat dengan tenang. Untuk keluarga
yang ditinggalkan, semoga mendapatkan berkah kekuatan dan keikhlasan. Aamiiin. (DM)