What's On J
47 Pembaca

Idul Fitri di Berbagai Negara

Roseri Rosdy Putri
Jabodetabek
23 March 2026

Hari Raya Idul Fitri merupakan salah satu perayaan terbesar bagi umat Muslim di seluruh dunia. Menandai berakhirnya bulan suci Ramadan, Idul Fitri tidak hanya menjadi momentum kemenangan spiritual setelah sebulan penuh berpuasa, tetapi juga perayaan yang kaya akan tradisi dan warna budaya di berbagai belahan bumi. Meski memiliki esensi yang sama -syukur, kebersamaan, dan saling memaafkan- cara perayaannya menunjukkan keragaman yang menarik dari satu negara.

Di Indonesia, Idul Fitri, atau di beberapa wilayah sering disebutnya dengan Lebaran, identik dengan tradisi mudik, yaitu pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. Makin sempurna perayaan Idul Fitri bila para warga negara senior juga bisa hadir dan merayakannya bersama dengan para perantau yang memutuskan untuk mudik ke kampung. Jalan rayapun dipenuhi pemudik, dan suasana kebersamaan terasa begitu kuat. Makanan khas seperti ketupat, opor ayam, dan rendang menjadi hidangan wajib di meja makan. Tradisi saling bermaafan dan suasana halal bilhalal menjadi inti dari perayaan ini, dan semua itu adalah dalam rangka mempererat hubungan keluarga dan sosial. Pada waktu ini juga dipakai sebagai ajang jalan-jalan bersama keluarga ke suatu objek wisata di daerah yang sudah disiapin jauh sebelum masa liburan hari raya tiba.

Lain Indonesia, beda pula di Turki, Idul Fitri dikenal sebagai Şeker Bayramı atau Festival Permen. Nama ini mencerminkan kebiasaan membagikan permen dan manisan kepada anak-anak dan tamu. Berbagai manisan khas Turki dikeluarkan dan dihidangkan. Masyarakat Turki mengenakan pakaian terbaik, mengunjungi keluarga, serta memberikan penghormatan kepada orang yang lebih tua dengan mencium tangan mereka sebagai tanda hormat. Suasana hangat dan penuh kasih terasa di setiap rumah.

Di kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi, perayaan Idul Fitri dimulai dengan salat Id berjamaah di masjid-masjid besar. Setelah itu, keluarga berkumpul untuk menikmati hidangan khas seperti kabsa dan berbagai makanan manis. Kota-kota dihiasi lampu dan dekorasi meriah, sementara pusat perbelanjaan dipenuhi orang yang berbelanja pakaian baru dan hadiah.

Sementara itu, di Mesir, Idul Fitri disebut “Eid el-Fitr” dirayakan dengan penuh keceriaan. Salah satu ciri khasnya adalah kue tradisional bernama kahk, yang ditaburi gula halus dan sering diisi kurma atau kacang. Anak-anak mengenakan pakaian baru dan menerima uang atau hadiah dari orang dewasa, menciptakan suasana penuh kegembiraan.

Di India dan Pakistan, Idul Fitri dirayakan dengan warna-warni budaya yang khas. Perempuan menghiasi tangan mereka dengan henna atau mehndi, sementara keluarga menyajikan hidangan seperti biryani dan sheer khurma—puding susu dengan kurma dan vermicelli. Tradisi memberi sedekah kepada yang membutuhkan juga menjadi bagian penting dari perayaan.

Di benua Afrika, seperti di Nigeria, Idul Fitri dikenal dengan sebutan “Sallah.” Perayaan ini diwarnai dengan parade, tarian tradisional, dan pakaian adat yang mencolok. Raja atau pemimpin tradisional sering tampil dalam prosesi khusus, menambah nuansa budaya yang kental dalam perayaan keagamaan ini.

Sementara itu, di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Inggris, Idul Fitri dirayakan oleh komunitas Muslim dengan semangat kebersamaan yang kuat meski berada di tengah masyarakat multikultural. Salat Id sering dilakukan di taman atau pusat komunitas, diikuti dengan festival makanan, bazar, dan kegiatan sosial. Perayaan ini juga menjadi ajang memperkenalkan budaya Islam kepada masyarakat luas.

Di Tiongkok, khususnya di kalangan Muslim Hui, Idul Fitri dirayakan dengan tradisi yang sederhana namun khidmat. Masjid-masjid dipenuhi jamaah, dan masyarakat mengenakan pakaian tradisional. Makanan halal khas setempat menjadi bagian penting dari perayaan.

Keberagaman cara merayakan Idul Fitri ini menunjukkan bahwa Islam hidup dan berkembang dalam berbagai konteks budaya. Setiap daerah memberikan sentuhan lokal yang unik, tanpa menghilangkan makna utama dari hari raya ini. Idul Fitri tetap menjadi momen untuk memperkuat iman, mempererat hubungan antar sesama, dan berbagi kebahagiaan.

Pada akhirnya, meskipun dirayakan dengan cara yang berbeda-beda, Idul Fitri menyatukan umat Muslim di seluruh dunia dalam satu semangat yang sama: kembali kepada fitrah, merayakan kemenangan atas diri sendiri, dan menyebarkan kebaikan kepada sesama. Di tengah perbedaan budaya dan tradisi, nilai-nilai universal seperti kasih sayang, pengampunan, dan solidaritas menjadi benang merah yang menghubungkan perayaan ini di seluruh penjuru dunia. Semua masyarakat menunggu momen 'kembali ke yang fitri' ini. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M. Mohon Maaf Lahir dan Bathin. (ERP)




 

TAGS: #arkeologi #iaaijabodetabek #ahliarkeologi #idulfitri1447H #muslimdunia