Kata Ketua
78 Pembaca

Museum Selalu Menarik bagi Para Arkeolog

Berthold DH Sinaulan
Jabodetabek
04 April 2026

April telah tiba. Bagi kalangan arkeolog dan permuseuman di Indonesia, April juga menjadi bulan penting. Pada 24 April 1778 para ilmuwan, peminat kebudayaan, dan sejumlah pejabat Pemerintah Hindia-Belanda membentuk sebuah perkumpulan yang diberi nama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.  Perkumpulan tersebut didirikan antara lain bertujuan mencapai kemajuan ilmu pengetahuan melalui pengembangan museum. Inilah cikal bakal keberadaan Museum Nasional Indonesia yang kita kenal sekarang. Museum yang juga sering disebut Gedung Gajah, karena di halaman depan gedung museum itu terdapat patung gajah berbahan perunggu, sebuah cenderamata dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang datang ke Hindia-Belanda pada 1871.

Membahas museum memang selalu menarik bagi para arkeolog. Studi museologi yang membahas mengenai sejarah, peran sosial, pengelolaan, konservasi, penelitian, dan edukasi koleksi, termasuk studi yang banyak diminati. Apalagi sejak semakin berkembangnya kesadaran masyarakat luas untuk mengoleksi benda-benda yang mereka anggap penting, sebagai memorabilia yang bernilai tinggi. Maka, tak sedikit masyarakat – baik secara lembaga, komunitas, maupun perorangan – mulai mendirikan museum, untuk menyimpan koleksi benda memorabilia yang dimilikinya.

Kebetulan, bulan lalu berlangsung diskusi publik Rancangan Undang-Undang Permuseuman yang diselenggarakan di Kampus UI Depok. Berdasarkan pengamatan selama jalannya diskusi, ternyata semangat untuk mengembangkan permuseuman di Indonesia – dalam hal ini dengan memperkuat kebijakan peraturan yang ada – semakin berkobar di kalangan banyak pihak. Selain yang hadir secara luring, tak sedikit pula peserta daring dari berbagai daerah di Indonesia, yang tekun mengikuti diskusi sekitar lima jam itu.

Apakah fenomena ini berbanding terbalik dengan anggapan bahwa museum sudah kurang diminati lagi? Nyatanya, masih berdasarkan pengamatan pribadi, cukup banyak masyarakat yang tetap datang ke museum. Tentu saja yang diminati adalah museum-museum yang kondisinya terawat dan mempunyai koleksi yang bernilai tinggi di mata masyarakat. Kendalanya mungkin, museum-museum yang bagus dan diminati masyarakat itu, tak jarang harga tiket masuknya cukup tinggi bagi kebanyakan masyarakat luas. Walaupun sebenarnya, kalau dibandingkan dengan pengalaman melihat berbagai benda koleksi dan merasakan suasana di dalam museum yang bagus-bagus itu, harga tiket yang harus dibayar sungguh pantas, tidak kemahalan.

Masalahnya sekarang, situasi dan kondisi dunia sedang kurang baik, bila tidak ingin dikatakan tidak baik. Ketegangan politik di sejumlah kawasan, menimbulkan pengaruh secara langsung pada perekonomian dunia. Ketika harga-harga semakin mahal, apalagi harga Bahan Bakar Minyak yang meningkat tinggi, jelas akan berpengaruh pada harga barang dan jasa lainnya. Bila sudah begini, mungkin saja masyarakat memilih untuk mengutamakan menjaga “periuk nasi”-nya dulu, daripada uangnya digunakan untuk ongkos transpor dan membayar tiket masuk museum.

Namun, justru karena timbulnya ketegangan yang menyebabkan dunia terpecah belah, ada yang membela A, ada yang membela B, serta ada juga yang bingung mau membela yang mana, museum diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif meredakan konflik. Itulah sebabnya, International Council of Museum (ICOM) dalam rangka memperingati Hari Museum Internasional 18 Mei 2026 dan sekaligus 80 tahun usia ICOM, telah menetapkan tema peringatan Museums Uniting a Divided World (Museum Menyatukan Dunia yang Terpecah).

ICOM menyoroti peran penting museum sebagai jembatan yang menyatukan kesenjangan budaya, sosial, dan geopolitik, serta mendorong dialog, pemahaman, terbuka untuk semua, dan perdamaian di dalam dan antarkomunitas di seluruh dunia. Dikatakan oleh ICOM, sebagai ruang publik dan tempat belajar yang terpercaya, museum berkontribusi pada hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati. Di masa yang ditandai dengan fragmentasi sosial, polarisasi, dan akses yang tidak setara terhadap pengetahuan dan budaya, museum membantu membangun kembali hubungan antargenerasi, komunitas, dan (yang terpisah oleh) perbatasan. Museum menciptakan lingkungan di mana cerita, objek, dan orang-orang berkumpul, menawarkan kesempatan untuk refleksi, pertukaran, dan pemahaman bersama.

Tema tersebut menggarisbawahi potensi museum untuk memupuk dialog yang saling menghormati tanpa perlu menghapus perbedaan. Sebagai arkeolog, sepatutnya kita menyambut baik dan ikut mendukung upaya ICOM untuk mewujudkan tema tersebut. Setuju ‘kan?!

Berthold DH Sinaulan

Ketua IAAI Komda Jabodetabek

 

TAGS: #arkeologi #ahliarkeologi #iaai #jabodetabek #kataketua #kebudayaan