Pada peringatan Hari Purbakala ke-113 yang
diselenggarakan oleh IAAI Komda Jabodetabek pada 17 Juni 2026, telah digelar
acara seminar “Menilik Tarumanagara”. Dihadiri oleh puluhan arkeolog dan
peminat kebudayaan, acara yang menampilkan narasumber Chaidir Ashari, seorang
arkeolog dan akademisi dari Universitas Indonesia, serta Retno Raswaty, Kepala
Badan Pelestarian Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, dan bertindak sebagai
moderator adalah Desse Yussubrasta, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan
Provinsi DKI Jakarta, berlangsung sukses.
Di akhir acara itu, sempat dikemukakan pula
rencana untuk mengadakan aktivitas lanjutan berupa kunjungan situs ke lokasi sejumlah prasasti
dari Kerajaan Tarumanagara yang terletak di Kabupaten Bogor. Kunjungan ke empat
prasasti dari Kerajaan Tarumanagara ini dianggap penting sebagai bagian dari
seminar yang diadakan sebelumnya. Setelah mendengarkan pemaparan secara
teoritis, kini saatnya melihat sendiri secara langsung prasasti-prasasti dari
masa Kerajaan Tarumanagara tersebut.
Sempat ada keraguan, bahkan sikap pesimistis
apakah kunjungan situs itu akan dapat terlaksana? Kalau pun terlaksana apakah
ada yang berminat ikut? Memang, mengingat acara ini dilaksanakan secara
mandiri, maka kami mengutip biaya keikutsertaan. Itu pun sangat masuk akal,
karena setelah dihitung, ternyata kami masih harus mengeluarkan uang kas untuk
menutupi kekurangannya.
Sampai seminggu sebelum acara, keraguan masih
tampak. Namun, akhirnya kunjungan situs itu terlaksana juga pada 22 Juli 2026.
Pesertanya pun cukup memadai, sesuai dengan harapan sebelumnya, yaitu minimal
25 orang. Nyatanya, peserta yang hadir mencapai 31 orang. Tidak termasuk 3
orang yang mengundurkan diri, karena sejumlah kendala pribadi. Selain anggota
IAAI, hadir pula peserta dari non-IAAI. Ada orangtua yang hadir bersama
anaknya, ada lansia, dan tak sedikit pula kalangan muda usia. Peserta tertua adalah
Ibu Tity Domo berusia 79 tahun, sedangkan peserta termuda adik Indhira yang
berusia 9 tahun dan masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar.
Bertemu di Halte Stasiun Bogor 2 yang terletak
di Seberang jalan dari Stasiun KA Bogor, kami akhirnya menggunakan tiga mobil
angkot (angkutan kota) yang disewa secara khusus, menuju ke lokasi situs
prasasti yang dikenal dengan nama prasasti Kebon Kopi. Dari sana, kami berjalan
kaki – beberapa yang tidak kuat menggunakan angkot – menuju ke lokasi tiga
prasasti lainnya.
Apa hasilnya? Sukses! Kegiatan yang sempat
diragukan ternyata berjalan sukses tanpa kendala yang berarti. Ini bukan kata
kami, tetapi kesaksian para peserta yang dituangkan dalam komentar-komentar
mereka di WhatsApp Group yang dibuat khusus untuk para peserta Kunjungan
Situs Tarumanagara tersebut. Ini beberapa komentar dari peserta:
“Tks utk panitia penyelenggara yang sudah memberikan
pelayanan yang bagus dan informatif.”
“Terima kasih teman-teman panitia ...Alhamdulillah
berjalan lancar...' nyusuri jejak Tarumanagara melalui tinggalannya. Kaki
berasa pegal, tp hati senang, jumpa teman lama dan baru.”
“Senang jalan bersama panitia yang ramah dan
bersahabat, pengetahuan bertambah, teman bertambah juga.”
Bahkan konsumsi pun dikomentari dengan jempol,
“Makanannya uenaak tenan.”
Kini, yang akan dilanjutkan adalah menyusun
tulisan-tulisan dari peserta, sehingga mudah-mudahan dapat dibukukan. Bersama
dengan paparan narasumber dari seminar “Menilik Tarumanagara”, kami berharap
tulisan-tulisan itu dapat menjadi bahan dokumentasi yang berguna untuk lebih
memperkenalkan tinggalan arkeologis yang ada di sekeliling kita.
Ke depan, IAAI Komda Jabodetabek akan mengadakan
kegiatan sejenis ke sejumlah situs lainnya. Tentu saja yang tak dilupakan
adalah menyusun buku 50 Tahun IAAI dan melaksanakan berbagai kegiatan
memperingati 50 Tahun atau Tahun Emas IAAI.
Berthold DH Sinaulan
Ketua IAAI Komda Jabodetabek
Â