What's On J
31 Pembaca

Menilik Jejak Tarumanagara

Dewi Mardiani
Bogor
10 August 2026

Kerajaan-kerajaan di masa klasik (Hindu-Buddha) banyak tersebar di wilayah Nusantara. Paling banyak temuan sisa-sisanya terdapat di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jejak-jejak kerajaaan masa klasik di Jawa Barat lebih sedikit, bahkan sebagian besarnya ditemukan tinggal sisa-sisanya saja.

Dari berbagai temuan tersebut, jejak-jejak awal dari masa klasik di Jawa Barat ini, terdapat di daerah Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di situlah terdapat sejumlah situs sisa-sisa Kerajaan Tarumanagara. Jejak-jejak peninggalannya berupa prasasti-prasasti di atas batu andesit besar. Ada pula temuan yang memperlihatkan pengaruh masa prasejarah (megalitik), yaitu batu menhir, batu dakon, dan arca Polinesia.

Untuk menelisik jejak-jejak Kerajaan Tarumanagara tersebut, Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat Daerah (Komda) Jabodetabek menggelar kunjungan situs, pada Rabu, 22 Juli 2026. Situs yang dikunjungi adalah lokasi yang terdapat Prasasti Kebon Kopi I, Prasasti Muara Cianten, Arca Polinesia, Watu Dakon, dan Prasasti Ciaruteun.

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari Seminar Menilik Tarumanagara yang diselenggarakan pada 17 Juni 2026. Seminar dan kunjungan situs ini merupakan bagian dari peringatan Hari Purbakala ke-113 dan 50 tahun IAAI. Menurut Ketua IAAI Komda)Jabodetabek, Berthold DH Sinaulan, seminar dan kunjungan situs kali ini menyasar ke beberapa situs di Bogor. Tahun sebelumnya, acara serupa digelar di Tangerang.

“Kami memilih situs ini untuk menelusuri peninggalan masa Tarumanagara di daerah Bogor. Selain memberikan pengetahuan kepada para peserta, juga mengajak melihat langsung peninggalan-peninggalannya,” kata Berthold dalam sambutannya. 

Kunjungan situs ini mendapat pendampingan dari Balai Pelestarian (BP) Kebudayaan Jawa Barat. Para peserta mendapatkan penjelasan rinci dari juru pelihara terlatih mengenai prasasti dan temuan-temuan lainnya. Tentunya, kunjungan situs ini tak hanya memberikan uraian terkait prasasti saja, melainkan juga mengajak masyarakat untuk turut serta dalam membantu melestarikan cagar budaya Indonesia.

Objek yang dikunjungi dimulai dari Prasasti Kebon Kopi I, lalu ke Prasasti Muara Cianten, Arca Polinesia, Watu Dakon, dan terakhir di Prasasti Ciaruteun. Situs tersebut terletak di Kampung Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Kabupaten Bogor. 

Juru Pelihara Ugan Sugandi menjelaskan bahwa prasasti-prasasti di situs tersebut, berdasarkan penelitian para ahli epigrafi, menyebutkan mengenai Kerajaan Tarumanagara dengan Raja Purnawarman. Prasastinya menggunakan Bahasa Sansekerta dengan huruf Palawa. Tulisan-tulisan tersebut dipahat di atas permukaan batu andesit yang besar dengan kisaran dimensi di atas 100 sentimeter.

Prasasti Kebon Kopi 1 dinamakan demikian karena ditemukannya pada 1863 di area hutan yang ditebangi untuk perkebunan kopi milik Jonathan Rig. Di permukaan batu tersebut dipahat dua gambar menyerupai telapak kaki gajah dan sejumlah tulisan Palawa. Sekelumit tulisan itu menyebutkan bahwa telapak kaki itu seperti Airawata, gajah dari penguasa Taruma yang agung. “Prasasti ini sudah beberapa kali diteliti oleh para peneliti,” kata juru pelihara yang akrab dipanggil Gandi.

Para peserta kemudian diajak ke situs Prasasti Muara Cianten. Di situs ini, juru pelihara memperlihatkan bangunan yang didirikan sebagai tempat batu prasasti yang dipindahkan dari muara Sungai Cianten. Gandi mengajak para peserta ke lokasi asal batu prasasti itu di muara sungai.

Menurut juru pelihara Kabupaten Bogor Issa, pemindahan batu prasasti tersebut karena di saat pasang, air sungai menutup batu tersebut, sehingga berisiko permukaan batu terkikis, bahkan berpindah. Tulisannya berupa ikal-ikal atau disebut Huruf Sangkha. “Batunya ada di tepian muara, antara Sungai Cianten dan Sungai Ciaruteun, ke bersama aliran Sungai Cisadane yang bermuara ke utara, ke laut lepas di Tangerang.”

Di tepi muara sungai, tepatnya di belakang rumah penduduk, terdapat Arca Polinesia. Gandi menjelaskan bahwa di situs Kampung Muara ini memang memperlihatkan temuan-temuan dari zaman pra-Hindu. Salah satunya adalah arca tipe Polinesia dan empat buah batu tegak dari batuan andesit. Posisi arca ini seperti orang membungkuk dan tanpa kepala.

Dari lokasi arca, para peserta berjalan kembali ke dekat Prasasti Kebon Kopi, tepatnya di dekat masjid. Temuan di sana adalah Watu Dakon atau  batu dakon berbahan batuan andesit dengan beberapa cekungan di atas permukaannya. Terdapat dua batu dakon dengan beberapa batu tegak. “Batu-batu ini disebutkan sebagai pemantauan pergerakan matahari untuk menghitung musim tanam,” jelas Gandi. 

Situs terakhir yang dikunjungi adalah tempat Prasasti Ciaruteun. Di atas batu andesit besar terdapat tulisan Palawa berbahasa Sansekerta dengan pahatan kaki manusia dan abjad Sangkha. Di sela-sela menikmati sajian makan siang khas Sunda, Gandi mengatakan, prasasti itu menyebutkan tentang pengagungan bagi Raja Tarumanagara, Purnawarman. Raja ini berkuasa di sana pada awal abad 5 Masehi.

Juru pelihara tersebut juga mengajak para peserta ke jembatan yang telah selesai dibangun di sekitar utara dari Prasasti Ciaruteun. Jembatan Rawayan Tarumanagara atau Jembatan Gantung Tarumanagara berjarak sekitar 80-100 meter dari Prasasti Ciaruteun. Jembatan sepanjang 130 meter ini menghubungkan Kampung Karacak (Kecamatan Rancabungur) dan Kampung Muara (Cibungbulang), Kabupaten Bogor.

“Ini jembatan terpanjang di Bogor. Tingginya sekitar 50 meter dari permukaan sungai,” sebut Gandi. Jembatan yang dibangun kokoh pada 2021 itu kini menjadi salah satu objek wisata setempat yang hanya bisa dilalui oleh orang dan kendaraan roda dua. (IWED)


TAGS: #arkeologi #iaaijabodetabek #50tahunIAAI #HPke113 #KunjunganSitus #