Kerajaan-kerajaan di masa klasik (Hindu-Buddha)
banyak tersebar di wilayah Nusantara. Paling banyak temuan sisa-sisanya terdapat
di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jejak-jejak kerajaaan
masa klasik di Jawa Barat lebih sedikit, bahkan sebagian besarnya ditemukan
tinggal sisa-sisanya saja.
Dari berbagai temuan tersebut, jejak-jejak awal
dari masa klasik di Jawa Barat ini, terdapat di daerah Ciampea, Kabupaten
Bogor, Jawa Barat. Di situlah terdapat sejumlah situs sisa-sisa Kerajaan
Tarumanagara. Jejak-jejak peninggalannya berupa prasasti-prasasti di atas batu
andesit besar. Ada pula temuan yang memperlihatkan pengaruh masa prasejarah
(megalitik), yaitu batu menhir, batu dakon, dan arca Polinesia.
Untuk menelisik jejak-jejak Kerajaan
Tarumanagara tersebut, Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat
Daerah (Komda) Jabodetabek menggelar kunjungan situs, pada Rabu, 22 Juli 2026.
Situs yang dikunjungi adalah lokasi yang terdapat Prasasti Kebon Kopi I,
Prasasti Muara Cianten, Arca Polinesia, Watu Dakon, dan Prasasti Ciaruteun.
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari Seminar
Menilik Tarumanagara yang diselenggarakan pada 17 Juni 2026. Seminar dan
kunjungan situs ini merupakan bagian dari peringatan Hari Purbakala ke-113 dan
50 tahun IAAI. Menurut Ketua IAAI Komda)Jabodetabek, Berthold DH Sinaulan,
seminar dan kunjungan situs kali ini menyasar ke beberapa situs di Bogor. Tahun
sebelumnya, acara serupa digelar di Tangerang.
“Kami memilih situs ini untuk menelusuri
peninggalan masa Tarumanagara di daerah Bogor. Selain memberikan pengetahuan
kepada para peserta, juga mengajak melihat langsung
peninggalan-peninggalannya,” kata Berthold dalam sambutannya.
Kunjungan situs ini mendapat pendampingan dari
Balai Pelestarian (BP) Kebudayaan Jawa Barat. Para peserta mendapatkan
penjelasan rinci dari juru pelihara terlatih mengenai prasasti dan
temuan-temuan lainnya. Tentunya, kunjungan situs ini tak hanya memberikan
uraian terkait prasasti saja, melainkan juga mengajak masyarakat untuk turut
serta dalam membantu melestarikan cagar budaya Indonesia.
Objek yang dikunjungi dimulai dari Prasasti
Kebon Kopi I, lalu ke Prasasti Muara Cianten, Arca Polinesia, Watu Dakon, dan terakhir
di Prasasti Ciaruteun. Situs tersebut terletak di Kampung Muara, Desa Ciaruteun
Ilir, Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Juru Pelihara Ugan Sugandi menjelaskan bahwa
prasasti-prasasti di situs tersebut, berdasarkan penelitian para ahli epigrafi,
menyebutkan mengenai Kerajaan Tarumanagara dengan Raja Purnawarman. Prasastinya
menggunakan Bahasa Sansekerta dengan huruf Palawa. Tulisan-tulisan tersebut
dipahat di atas permukaan batu andesit yang besar dengan kisaran dimensi di
atas 100 sentimeter.
Prasasti Kebon Kopi 1 dinamakan demikian karena
ditemukannya pada 1863 di area hutan yang ditebangi untuk perkebunan kopi milik
Jonathan Rig. Di permukaan batu tersebut dipahat dua gambar menyerupai telapak
kaki gajah dan sejumlah tulisan Palawa. Sekelumit tulisan itu menyebutkan bahwa
telapak kaki itu seperti Airawata, gajah dari penguasa Taruma yang agung.
“Prasasti ini sudah beberapa kali diteliti oleh para peneliti,” kata juru
pelihara yang akrab dipanggil Gandi.
Para peserta kemudian diajak ke situs Prasasti
Muara Cianten. Di situs ini, juru pelihara memperlihatkan bangunan yang
didirikan sebagai tempat batu prasasti yang dipindahkan dari muara Sungai
Cianten. Gandi mengajak para peserta ke lokasi asal batu prasasti itu di muara
sungai.
Menurut juru pelihara Kabupaten Bogor Issa, pemindahan
batu prasasti tersebut karena di saat pasang, air sungai menutup batu tersebut,
sehingga berisiko permukaan batu terkikis, bahkan berpindah. Tulisannya berupa
ikal-ikal atau disebut Huruf Sangkha. “Batunya ada di tepian muara, antara
Sungai Cianten dan Sungai Ciaruteun, ke bersama aliran Sungai Cisadane yang
bermuara ke utara, ke laut lepas di Tangerang.”
Di tepi muara sungai, tepatnya di belakang rumah
penduduk, terdapat Arca Polinesia. Gandi menjelaskan bahwa di situs Kampung
Muara ini memang memperlihatkan temuan-temuan dari zaman pra-Hindu. Salah
satunya adalah arca tipe Polinesia dan empat buah batu tegak dari batuan
andesit. Posisi arca ini seperti orang membungkuk dan tanpa kepala.
Dari lokasi arca, para peserta berjalan kembali
ke dekat Prasasti Kebon Kopi, tepatnya di dekat masjid. Temuan di sana adalah
Watu Dakon atau batu dakon berbahan batuan
andesit dengan beberapa cekungan di atas permukaannya. Terdapat dua batu dakon
dengan beberapa batu tegak. “Batu-batu ini disebutkan sebagai pemantauan
pergerakan matahari untuk menghitung musim tanam,” jelas Gandi.
Situs terakhir yang dikunjungi adalah tempat
Prasasti Ciaruteun. Di atas batu andesit besar terdapat tulisan Palawa
berbahasa Sansekerta dengan pahatan kaki manusia dan abjad Sangkha. Di
sela-sela menikmati sajian makan siang khas Sunda, Gandi mengatakan, prasasti
itu menyebutkan tentang pengagungan bagi Raja Tarumanagara, Purnawarman. Raja
ini berkuasa di sana pada awal abad 5 Masehi.
Juru pelihara tersebut juga mengajak para peserta
ke jembatan yang telah selesai dibangun di sekitar utara dari Prasasti
Ciaruteun. Jembatan Rawayan Tarumanagara atau Jembatan Gantung Tarumanagara
berjarak sekitar 80-100 meter dari Prasasti Ciaruteun. Jembatan sepanjang 130
meter ini menghubungkan Kampung Karacak (Kecamatan Rancabungur) dan Kampung
Muara (Cibungbulang), Kabupaten Bogor.
“Ini
jembatan terpanjang di Bogor. Tingginya sekitar 50 meter dari permukaan
sungai,” sebut Gandi. Jembatan yang dibangun kokoh pada 2021 itu kini menjadi
salah satu objek wisata setempat yang hanya bisa dilalui oleh orang dan
kendaraan roda dua. (IWED)