Publikasi ini dapat diakses secara gratis
File PDF tidak tersedia untuk publikasi ini.
Museum Benteng Heritage yang terletak di kawasan Kota Lama Tangerang, Provinsi Banten, merupakan salah satu tujuan wisata yang layak dikunjungi bagi mereka yang berkunjung ke Tangerang. Museum tersebut menampilkan alur kisah tentang hadirnya para pendatang dari Tiongkok yang kemudian menetap dan beranak pinak di Tangerang. Benda-benda koleksi yang ditampilkan dalam museum ini sarat dengan nilai sejarah, bukan hanya terkait dengan sejarah kedatangan para pendatang dari Tiongkok, tetapi juga sejarah Kota Tangerang pada umumnya.
Dari sekian banyak benda-benda yang terdapat di dalam museum itu, adalah sejumlah koleksi filateli yang dipamerkan dalam lemari kaca di lantai atas museum. Ada prangko-prangko dari zaman Hindia-Belanda, serta ada juga koleksi postal history berupa amplop dan isi suratnya, yang merupakan catatan dari saling berkirim surat antara O.K.T dan Prof. Harimurti Kridalaksana.
O.K.T atau lengkapnya Oey Kim Tiang adalah penerjemah cerita silat Tiongkok yang paling produktif dan populer di Indonesia. Di lahir dari keluarga Tionghoa di Tangerang yang dikenal dengan nama “Cina Benteng” pada 1903 dan meninggal dunia di kota yang sama pada 1995. Selama masa hidupnya, dia telah menerjemahkan lebih dari seratus karya terjemahan cerita-cerita silat Tiongkok. Sementara Prof. Harimurti Kridalaksana adalah guru besar dalam bidang bahasa yang juga menguasai sinologi (ilmu tentang bahasa dan sastra China) dari Universitas Indonesia. Harimurti juga dikenal sebagai salah satu penyunting Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Keduanya terlibat saling berkirim surat yang membahas tentang cerita-cerita silat Tiongkok yang diterjemahkan O.K.T ke dalam Bahasa Indonesia. Walaupun kemahiran O.K.T dalam menerjemahkan dari bahasa aslinya ke dalam Bahasa Indonesia tak diragukan lagi, tetapi dia tetap meminta masukan dari Harimurti yang diketahui sebagai guru besar dalam bidang bahasa.
Prangko Hindia-Belanda
Selain koleksi benda postal history berupa amplop surat dan isi suratnya – yang salah satu fotokopi suratnya dimasukkan ke dalam mesin ketik yang konon pernah dimiliki O.K.T – maka di Museum Benteng Heritage terdapat pula beberapa lembaran album lepas dengan prangko-prangko dari masa Hindia-Belanda.
Prangko sebagai bukti pelunasan pengiriman surat pos pertama kali diterbitkan di Inggris pada 6 Mei 1840. Sedangkan di bumi Nusantara yang ketika itu masih bernama Hindia-Belanda, prangko pertama kali terbit pada 1 April 1864. Gambar pada prangko itu adalah wajah Raja Willem III, penguasa Belanda saat ini, dengan nominal (harga satuan) 10 sen. Di Museum Benteng Heritage, prangko pertama Hindia-Belanda tanpa gigi (perforasi) dengan cap “FRANCO” ikut ditampilkan.
Selain itu, ada juga prangko kedua Hindia-Belanda yang terbit pada 1868. Gambarnya sama dengan prangko pertama. Perbedaannya adalah pada prangko kedua ini sudah ada gigi (perforasi) di keempat sisi luar keping prangko tersebut. Masih ada lagi prangko-prangko Hindia-Belanda lainnya yang ditampilkan di museum tersebut. Hampir semuanya dalam kondisi used atau bekas pakai. Kondisi yang disenangi oleh para filatelis yang juga peneliti sejarah pos, apalagi bila cap pos yang diterakan pada prangko tersebut terlihat jelas nama kantor pos dan tanggal pengirimannya.
Meskipun belum ada penelitian secara khusus, tetapi pada masa Hindia-Belanda, kaum keturunan Tionghoa, termasuk yang cukup banyak mengenyam pendidikan formal, paling tidak baca dan tulis. Walaupun mungkin kemampuan baca tulis pada awalnya hanya dalam “bahasa ibu” yaitu bahasa yang dikenal dalam lingkungan keluarga keturunan Tionghoa, tetapi paling tidak hal ini dapat menjadi dasar bahwa mereka memiliki kemampuan menulis dan membaca surat.
Hampir dapat dipastikan, bahwa pada masa lalu komunitas masyarakat di kawasan yang sekarang dinamakan Kota Lama Tangerang, tidak sedikit yang memanfaatkan keberadaan kantor pos dalam aktivitas surat menyurat mereka. Di antara mereka, tentu ada pula dari golongan keturunan Tionghoa.
Dari sejumlah data sejarah yang dikumpulkan filatelis dan peneliti postal history asal Belanda, dicatat bahwa kantor pos di Tangerang telah ada paling tidak dalam kurun 1864-1871. Bulterman (1981) mencatat, nama Tangerang telah digunakan sebagai cap pos berbentuk tulisan persegi panjang yang dalam Bahasa Belanda disebut langstempel. Tangerang termasuk dalam kota-kota di Pulau Jawa dan Madura yang mempunyai langstempel tipe L1, yang digunakan antara 1864 sampai 1871.
Begitulah, seterusnya Kantor Pos Tangerang yang letaknya tak terlalu jauh dari kawasan Kota Lama Tangerang, terus memainkan peranan dalam membantu komunikasi melalui surat-menyurat, maupun masyarakat yang ingin mengirim paket pos dan uang (melalui poswesel). Keberadaan kantor pos di suatu daerah, seperti di Tangerang, menunjukkan pula bahwa di daerah tersebut terdapat infrastruktur dan sistem komunikasi yang pada gilirannya, membantu mendukung berbagai aktivitas sosial dan ekonomi di daerah bersangkutan.
(Versi lengkap tulisan ini ada dalam buku Kota Lama Tangerang: Di 112 Tahun Hari Purbakala. YPTD 2025. Hlm 2-13)